ARTIKEL

  • BUDAYA
  • KEAGAMAAN

Kamis, 13 Januari 2011

KL IX SEM.2 HAKIKAT YAJNA

MATERI DAN TUGAS

“Dahulu kala, Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alam semesta dan

segala isinya atas dasar Yajña, dan bersabda: ‘Dengan Yajña ini

hendaknya engkau berkembangbiak

dan jadikan bumi ini sebagai

sapi perahanmu”

Bhagavadgìtà III.10.


Yajnadalam pengertian secara umum adalah korban suci atau persembahan suci yang dilaksanakan secara tulus dan iklas kepada aspek yang ditujunya. Yajna sebagai filsafat dan landasan Upacara. Perlu dipahami, bahwa hakekat Yajna adalah pengorbanan yang tulus. Yajna tidak hanya dalam bentuk upacara (ritual) tetapi lebih banyak berdimensi sosial seperti pendidikan, kemanusiaan dan pemeliharaan lingkungan. Ada beberapa jenis Yajna yang mesti dipahami oleh umat Hindu. Yajna sebagai pengorbanan suci merupakan kewajiban sehari-hari.

Manavadharmasastra III.70 yang merupakan kompedium hukum Hindu merumuskan sebagai berikut: Brahma Yajna, yaitu belajar dan mengajar dengan penuh keikhlasan. Pitra Yajna, yaitu menghaturkan Tarpana dan air suci kepada leluhur. Dewa Yajna, yaitu upacara menghaturkan api Homa (Agnihotra). Bhuta Yajna, menyelenggarakan Upacara Bali kepada para Bhuta. Nr (Nara) Yajna, yaitu menerima tamu dengan ramah-tamah.

Manavadharmasastra III.74 merumuskan dalam istilah yang sangat berbeda sebagai berikut: Ahuta, yaitu mengucapkan doa-doa suci berupa mantra Veda. Huta, yaitu persembahan berupa Api Homa (Agnihotra). Prahuta, Upacara Bali dipersembahkan di atas tanah kepada para Bhuta. Brahmahuta, yaitu memberikan penghormatan kepada para Brahmana. Prasita, yaitu persembahan Tarpana kepada para leluhur.


ENAM HAL PENYANGGA / JALAN DHARMA
  1. Satya : kesetiyaan / kejujuran
  2. Rta : Hukum kekekalan alam / hukum alami alam
  3. Diksa : Penyucian diri
  4. Tapa : Pengendalian Diri
  5. Brahma : Doa / mantra
  6. Yajna : Korban suci denga tulus iklas
yajna secara etimologis berasal dari kata yaj yang berarti memuja atau memberi penghormatan.

TUJUAN MAUSIA BERYAJNA
  1. sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih kepada tuhan atas anugerahnya
  2. sebagai sarana menghubugkan diri denga tuhan dan segala manifestasinya
  3. sebagai sarana menyucikan lahir batin
  4. sebagai sarana memohon keselamatan
  5. sarana menetralisir pengaruh negatif
  6. sarana memohon ampun atas kesalahan
  7. sarana mengembangkan kebudayaan dan pendidikan
  8. sebagai sarana menciptakan keseimbangan dan keharmonisan kehidupan sesama makhluk dengan Tuhan.

Rata TengahBENTUK-BENTUK PELAKSANAAN YAJNA
  1. Pemujaan Pada Tuhan maupun aspek aspeknya
  2. Pemberian penghormatan kepada orang yang memiliki kedudukan / jabatan
  3. Pemberian pengabdian kepada siapapun
  4. Pelaksanaan cinta kasih
  5. pengorbanan dalam bentuk material

SUMBER HUKUM PELAKSANAAN YAJNA
  1. Tri Rna; manusia memiliki tiga hutang yaitu kepada para dewa, rsi, dan pitara. Dewa Rna ada karena Tuhan telah memberikan jiwa dan memberikan bimbingan kepada manusia. Rsi Rna ada karena para rsi telah memberikan ilmu pengetahuan kepada manusia. Pitra Rna ada karena leluhur telah membesarkan dan memelihara manusia sejak lahir.
  2. Ajaran Wisudi Marga; yaitu jalan kesucian yang ditempuh manusia. salah satu bentuk jalan kesucian yang dapat dilakukan yaitu dengan yajna.

TINGKATAN YAJNA BERDASARKAN TINGKATAN MATERI
  1. Nista, artinya yadnya tingkatan kecil yang dapat di bagi lagi menjadi :

  • Nistaning nista, adalah terkecil dari yang kecil
  • Madyaning nista, adalah tingkatan sedang dari yang kecil.
  • Utamaning Nista, adalah tingkatan terbesar dari yang kecil

2. Madya, yaitu yandnya tingkatan sedang yang dapat dibagi lagi menjadi :

  • Nistaning Madya, adalah tingkatan terkecil dari yang sedang.
  • Madyaning madya, adalah tingkatan sedang dari yang sedang.
  • Utamaning madya, adalah tingkatan terbesar dari yang sedang.

3). Utama, yaitu yadnya tingkatan besar yang dapat dibagi menjadi :

  • Nistaning utama, adalah tingkatan terkecil dari yang besar
  • Madyaning Utama, adalah tingkatan sedang dari yang besar.
  • Utamaning Utama, adalah tingkatan terbesar dari yang besar.

TINGKATAN KWALITAS YAJNA
  1. Satwika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan dasar utama sradha bakti, lascarya, dan semata melaksanakan sebagai kewajiban. Apapun bentuk yadnya yang dilakukan seperti; persembahan, pengendalian diri, punia, maupun jnana jika dilandasi bakti dan tanpa pamrih maka tergolong Satwika Yadnya. Yadnya dalam bentuk persembahan / upakara akan sangat mulia dan termasuk satwika jika sesuai dengan sastra agama, daksina, mantra, Annasewa, dan nasmita.
  2. Rajasika Yadnya yaitu yadnya dilakukan dengan motif pamrih serta pamer kemewahan, pamer harga diri, bagi yang melakukan punia berharap agar dirinya dianggap dermawan. Seorang guru/pendarmawacana memberikan ceramah panjang lebar dan berapi-api dengan maksud agar dianggap pintar; semua bentuk yadnya dengan motif di atas tergolong rajasika yadnya. Seorang yang melakukan tapa, puasa tetapi dengan tujuan untuk memperoleh kekayaan, kesaktian fisik, atau agar dianggap sebagai orang suci juga tergolong yadnya rajasik.
  3. Tamasika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan tanpa sastra, tanpa punia, tanpa mantra dan tanpa keyakinan. Ini adalah kelompok orang yang beryadnya tanpa arah tujuan yang jelas,hanya ikut-ikutan. Contoh orang-orang yang tegolong melaksanakan tamasikan yadnya antara lain orang yang pergi sembahyang ke pura hanya ikut-ikutan, malu tidak ke pura karena semua tetangga pergi ke pura, orang gotong royong di pura atau di tempat umum juga hanya ikut-ikutan tanpa menyadari manfaatnya. Termasuk dalam katagori ini adalah orang yang beryadnya karena terpaksa. Terpaksa maturan karena semua orang maturan. Terpaksa memberikan punia karena semua orang melakukan punia. Terpaksa puasa karena orang-orang berpuasa. Jadi apapun yang dilaksanakannya adalah sia-sia, tiada manfaat bagi peningkatan karmanya.

KRITERIA SATWIKA YAJNA

Untuk Yadnya yang berbentuk persembahan/upakara akan tergolong kualitas Satwika bila yadnya dilaksanakan berdasarkan :

  1. Sradha, artinya yadnya dilaksanakan dengan penuh keyakinan
  2. Lascarya, yaitu yadnya dilaksanakan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.
  3. Sastra, bahwa pelaksanaan yadnya sesuai dengan sumber-sumber sastra yang benar.
  4. Daksina, yaitu yadnya dilaksanakan dengan sarana upacara serta punia kepada pemuput yadnya/manggala yadnya.
  5. Mantra dan gita, yaitu dengan melantunkan doa-doa serta kidung suci sebagai pemujaan.
  6. Annasewa, artinya memberikan jamuan kepada tamu yang menghadiri upacara. Jamuan ini penting karena setiap tamu yang datang ikut berdoa agar pelaksanaan yadnya berhasil. Dengan jamuan maka karma dari doa para tamu undangan menjadi milik sang yajamana.
  7. Nasmita, bahwa yadnya yang dilaksanakan bukan untuk memamerkan kekayaan dan kemewahan

Apapun jenis yadnya yang kita lakukan seharusnya yang menjadi tolok ukur adalah kualitas yadnya. Sedangkan kualitas yadnya yang harus dicapai setiap pelaksanaan yadnya adalah Satwika Yadnya. Tidak ada gunanya yadnya yang besar tetapi bersifat rajas atau tamas.