ARTIKEL

  • BUDAYA
  • KEAGAMAAN

Senin, 01 November 2010

sejarah agama hindu di india

BAHAN AJAR

Wahyu suci Weda diwahyukan oleh Tuhan melalui perantara untuk menerima wahyunya dan menyebarluaskanya kepada seluruh umat manusia. Para penerima wahyu Weda tersebut sering disebut dengan istilah “Sapta Maha Resi” adapun para Rsi tersebut yaitu :
1. Rsi Gritsamada
Rsi Gritsamada lahir dari keluarga Angira, beliau Rsi yang rajin dan tekun, Rsi Gritsamada berjasa bagi kita, beliau mengumpulkan mantram-mantram Weda. Beliau banyak menulis mantra Reg Weda.
2. Rsi Wiswamitra
Wiswamitra adalah Rsi yang banyak disebut-sebut, wahyu yang beliau terima dihimpun dalam Weda. Pada mulanya Wiswamitra dikenal sebagai keturunan ksatria atau penguasa, karena ketekunannya dalam belajar beliau akhirnya dikenal sebagai Maha Rsi.
3. Rsi Wamadewa
Wamadewa sangat banyak menulis ayat-ayat Weda. Dalam cerita dikatakan Rsi Wamadewa telah mencapai penerangan sempurna semasih dalam kandungan ibunya, keajaiban sering terjadi dalam kehidupannya. Wamadewa sudah biasa berbicara dengan Dewa Indra dan Dewa Aditi.
4. Rsi Atri
Atri lahir dilingkungan keluarga Brahmana, keluarga Atri banyak menerima wahyu. Sebagai warga Brahmana, Rsi Atri sejak kecil hidup dalam lingkungan disiplin Brahmana, ada tiga puluh enam keluarga Atri yang mampu menerima wahyu. Rsi Atri dan keluarganya sungguh besar jasanya bagi kita semua.
5. Rsi Bharadwaja
Pada masa Rsi Bharadwaja, kegiatan menghimpun ayat Weda tetap dilanjutkan. Rsi Bharadwaja selalu berpikir suci, beliau sangat rajin mengumpulkan ayat-ayat Weda.
6. Rsi Wasista
Nama Wasista banyak disebutkan dalam Maha Bharata, Wasista adalah seorang Rsi. Beliau tinggal di hutan Kamyaka, beliau belajar di tempat yang sepi jauh dari keramaian. Beliau banyak menambah ayat-ayat Reg Weda.
7. Rsi Kanwa
Maha Rsi Kanwa adalah orang suci, beliau menerima banyak wahyu. Karena kesuciannya beliau sangat dicintai. Hyang Widhi menganugrahkan kesabaran kepada beliau, Rsi Kanwa sangat bijaksana, pribadinya dikagumi banyak orang.

FASE PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDIA
1. Zaman Weda
Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu, sekitar 2500 s.d 1500 tahun sebelum Masehi, setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi, mereka menyembah, Dewa-dewa seperti Agni, Varuna, Vayu, Indra, Siwa dan sebagainya. Walaupun pada masa itu Dewa-dewa itu banyak, namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Tuhan yangTunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta, yang disebut "Rta". Pada jaman ini, masyarakat dibagi atas kaum Brahmana, Ksatriya, Vaisya dan Sudra, pembagian ini bersifat Horisontal bukan vertikal. Adapun ciri utama zaman weda yaitu sebagai berikut :
• Kitab suci Weda diwahyukan dan adanya pengkodifikasian wahyu Weda kedalam Catur Weda,
• kepercayaan manusia terhadap para Dewa sangat tinggi, dewa merupakan perwujudan tuhan yang maha tunggal
• dewa yang terkenal yaitu : agni, indra, rudra, waruna

2. Zaman Brahmana
Pada Jaman Brahmana, kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan, kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. Jaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya "Tata Cara Upacara" beragama yang teratur. Kitab Brahmana, adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Penyusunan tentang Tata Car Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda. Adapun ciri yang menonjol pada jaman brahmana yaitu :
• Adanya pelaksanaan yajna secara besar besaran,
• kedudukan para brahmana dan Dewa sejajar
• Para Brahmana menjadi golongan paling berkuasa
• Munculnya berbagai macam bentuk pasraman
• Dewa jadi berkembang fungsinya
• Munculnya kitab sutra sebagai kitab penuntun pelaksanaan yajna

3. Zaman Upanisad
Sedangkan pada Jaman Upanisad, yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan
Saji saja, akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama, yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. Pada jaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang kemudian dikembangkan pula pada ajaran Darsana, Itihasa dan Purana. Sejak jamanPurana, pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum. Pada zaman ini filsafat ini terpecah menjadi 2 airan besar yaitu astika yaitu filsafat yang menempatkan weda sebagai otoritas tertinggi, dan nastika yaitu filsafat yang tidak menempatkan weda sebagai otoritas tertinggi dalam ajaranya.
1. Astika yitu kelompok filsafat yang mengakui weda sebagai otoritas ajaran tertinggi, yang terdiri dari wedanta, Waisesika, Yoga, Samkya, Nyanya, mimamsa
2. Nastika yaitu kelompok filsafat yang tidak mempercayai weda sebagai otoritas tertinggi ajaranya yang meliputi Buda, jaina, carwaka


PERKEMBANGAN AGAMA HIDU DI NEGARA LAIN
1. Mesir
Di mesir ada prasasti dalam bentuk Incrispi yang berangka 1280 SM. Isinya memuat tentang perjanjian raja Ramases II dengan bangsa Haititie.dalam prasasti tersebut terdapat tulisan “Maitrawaruna sebagai dewa kembar dalam weda yang menjadi saksi”. Pada raja mesir zaman dahulu dinamakan dengan nama Ramases. Nama tersebut mengingatkan kita pada cerita Rama dalam ceritera ramayana yang diakui sebagai penjelmaan Dewa Wisnu.

2. Mexico
Di mexiko memiliki perayaan hari raya yang disebut Rama-Sita , disana juga ditemukan arca ganesha dalam penggalian arkeologi. Penduduk bangsa mexiko dinamakan bangsa Aztec yang mengingatkan kita pada kelompok Astika dalam sejarah perkembangan agama Hindu di India.
3. Peru
Bangsa peru merupakan bangsa yang penduduknya banyak menyembah kemulian matahari, hari rayanya dinamakan Soloutis dimana diryakan tiap 21 Juni dan 22 desember dimna matahari tepat pada titik deklanasinya. Masyarakat peru sering disebut dengan nama bangsa Inca yang berasal dari kata ina yang berarti matahari.

4. Kalifornia
Kalifornia merupkan negara di aamerika serikat. Di negara ini terdapat lokasi yang dinamakan “Taman Gunung Abu” di pulau kuda. (ash mountain park in horse island. Dalam kitab purana tentang raja segara dan 60.000 putranya yang dibakar oleh Rsi kapila dengan kekuatan yoganya. Putra raja segara disuruh mencari kuda persembahan ke Pathaloka dengan menggali tanah. Pataloka berarti negeri dibalik india yaitu amerika. Mereka menemukan kuda kuda di pertapaan Rsi kapila dan mereka mengganggu tapa rsi kapila sehingga mereka dipandang dan terbakar jadi abu.

5. Australia
Di Australia terdapat kebudayaann yang berupa tarian siwa dance dimana penariny di hias memiliki mata ketiga. Hal tersebut mengingatkan kita pada dewa Siwa yang memiliki mata ketiga.


SAD DARSANA

1. Samkya
Sankhya adalah pemikiran filsafat India yang bercorak realistis, dualis, dan pluralis. Dualis karena menyatakan bahwa substansi seluruh alam semesta terdiri atas dua azas yang berbeda, yaitu purusa (azas rohani) dan prakerti (azas materi). Realis karena menyatakan adanya realitas dunia yang bebas dari roh. Dan Pluralis karena menyatakan bahwa purusa (azas rohani) itu banyak, tidak terhitung. Bahkan, Sankhya membebaskan dirinya dari “Tuhan” sebagai penyebab segala yang ada, melainkan hanya mengakui kedua azas (purusa dan prakerti) sebagai hakikat alam semesta beserta isinya, juga termasuk manusia (bhuwana agung dan bhuwana alit). Purusa atau azas rohani bersifat kekal, berdiri sendiri, banyak, tidak terhitung. Sedangkan, prakerti atau azas materi yang terdiri atas unsur-unsur kebendaan dan kejiwaan (psikologis), berjumlah satu, penyebab pertama lahirnya semesta, tidak teramati tetapi nyata-nyata ada.

2. Yoga
Yoga adalah sistem filsafat India yang lebih menekankan praktik spiritual daripada sekedar teori. Metafisika yoga tidak jauh berbeda dengan samkhya karena yoga mengakui 25 tattwa dari samkhya, hanya saja yoga mengakui adanya Tuhan yang disebut iswara, yaitu salah satu dari purusa yang bebas dari semua penderitaan, mahasempurna, kekal abadi, Dia adalah Jiwa Yang Mahaagung. Sedangkan, jiwa-jiwa perorangan diliputi oleh klesa-klesa yang membelenggunya dalam lingkaran karma dan samsara. Oleh sebab itu tujuan utama dari sistem yoga adalah mengembalikan purusa dalam keadaan murninya, membebaskannya dari segala penderitaan dengan jalan menghentikan semua aktivitas citta, yoga citta vrtti nirodhah.
Sebagaimana ajaran samkhya bahwa purusa adalah banyak maka demikian pula ajaran yoga. Menurut yoga bahwa setiap purusa berhubungan dengan satu citta yang disebut karana citta. Karana citta yang berhubungan dengan tubuh disebut karya citta. Citta adalah hasil evolusi pertama dari prakerti yang merupakan gabungan dari buddhi, ahamkara, dan manas. Citta memantulkan kesadaran purusa sehingga citta menjadi sadar dan berfungsi dengan bermacam-macam cara. Sedangkan purusa sendiri menyamakan dirinya dengan citta akibat dari kebodohan (awidya) sehingga tampak mengalami semua perubahan dari citta.

3. Waesesika
Substansi menurut vaisiseka dibedakan menjadi tiga, yaitu substansi jasmani, substansi rohani, dan substansi tak terbatas. Substansi rohani yang terdiri atas atman dan manas (pikiran) penting untuk dibicarakan karena berkaitan langsung dengan kehidupan manusia. Substansi ini yang memungkinkan manusia hidup karena ia adalah asas hidup kejiwaan.
Atman menurut vaisiseka berjumlah banyak, tak terbatas, semuanya kekal, dan melingkupi segala sesuatu. Sedangkan manas secara substansial bukanlah rohani karena terdiri dari atom-atom yang menjadi lapisan dari segala bentuk kesadaran. Manas adalah suatu perasaan yang dalam (antarindriya) yang secara langsung atau tidak langsung merasakan segala macam perasaan dan keinginan. Oleh karena itu untuk dapat mengenal, merasa, mengetahui, dan menghendaki sesuatu yang ada dan bersifat kebendaan maka atman memerlukan manas yang menghubungkannya dengan alat-alat indera. Dengan demikian maka antara atman dengan manas tidak dapat dipisahkan karena hanya dengan manaslah atman dapat eksis dalam dunia eksternal. Kedua substansi inilah yang membentuk “pribadi” dalam percakapan sehari-hari. Jadi pada dasarnya pribadi dapat dibedakan atas pribadi yang berpribadi (manas/pikiran) dan yang tanpa pribadi (atman).
Oleh karena atman selalu bersama-sama dengan manas dalam eksistensinya sebagai corak kehidupan jiwani atau sebagai satu kesatuan pribadi maka kepadanya dapat dilekatkan kualitas dan memungkinkan adanya suatu aktivitas. Kualitas yang diberikan untuk substansi rohani ini antara lain budhi (pengetahuan), sukha (kesenangan), dukha (kesedihan), iccha (keinginan), dwesa (keseganan), prayatna (usaha), dharma (berfaedah) dan adharma (cacat). Meskipun demikian kualitas ini tidak mutlak melekat kepada substansi karena substansi dapat berdiri sendiri tanpa kualitas. Di pihak lain eksistensi dari substansi rohani ini, juga tampak dalam perbuatan (karma). Sebaliknya, suatu aktivitas (karma) tidak mungkin berdiri sendiri tanpa substansi.

4. Nyanya
Nyaya adalah sistem filsafat Astika, yaitu sistem filsafat yang mempercayai otoritas Weda. Walaupun tergolong Astika, Nyaya dikembangkan secara independen dari Weda melalui kekuatan nalar dan logika. Nyaya membicarakan bagian umum dari sistem filsafat sehingga bersifat teknis dan metodis karena di dalamnya dibicarakan metode untuk mengadakan penelitian yang analitis (penjernihan konsep) dan kritis (terbuka dan dialektis). Perhatian Nyaya adalah pada bidang epistemologi dan ontologi termasuk ilmu logika. Epistemologi berkaitan dengan kondisi-kondisi berpikir yang benar dan cara-cara mendapatkan pengetahuan yang valid atau sejati tentang realitas yang disebut padharta.
Dalam filsafat Nyaya pengetahuan dibagi menjadi dua ketegori mayor, yaitu anubhawa (empiris, pengetahuan pengalaman) dan smerti (memori, pengetahuan ingatan). Dua kategori mayor ini dapat dibagi lagi menjadi dua, yaitu pengetahuan yang valid disebut prama dan pengetahuan yang tidak valid disebut aprama.
Menurut Nyaya, pengetahuan yang valid (prama) hanya didapatkan melalui empat alat yang disebut catur pramana (catur artinya empat, pramana artinya alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar (prama)), yaitu (a) pratyaksa (pengamatan atau persepsi), (b) anumana (penyimpulan atau inferensi), (c) upamana (pembandingan atau komparasi), dan (d) sabda (kesaksian). Sedangkan pengetahuan yang tidak valid (aprama) apabila didapatkan dengan alat yang tidak benar, yaitu (1) smerti (ingatan), (2) samsaya (keragu-raguan), (3) bhrama atau wiparyaya (kognisi salah), dan (4) tarka (argumen hipotetik). Dengan demikian kebenaran suatu pengetahuan ditentukan oleh alat-alat yang digunakan untuk mendapatkannya. Apabila alat yang digunakan benar maka pengetahuan itu benar atau valid (prama), tetapi jika alat yang digunakan salah maka pengetahuan itu salah atau invalid (aprama).

5. Mimamsa
Sistem Filsafat Mimamsa ditulis dalam Mimamsasutra oleh Maharsi Jaimini (300-200 SM). Penting untuk diketahui bahwa pada abad ke-6 sampai abad ke-3 SM, ajaran-ajaran Buddha menguasai alam pikiran orang India sehingga agama Brahmana yang sebelumnya dianut oleh mayoritas orang India mulai ditinggalkan dan diganti dengan agama baru, yaitu Buddha. Oleh sebab itu mimamsa tampil sebagai aliran filsafat yang berusaha mengembalikan kejayaan agama brahmana dengan memberikan pemikiran-pemikiran kritis dan spekulatif tentang ajaran Veda.
Mimamsa menekankan pada ajaran karma kanda, yaitu memaknai bahwa inti ajaran veda adalah aktivitas (karma). Menurut mimamsa, veda adalah otoritas tertinggi, sumber dari segala sumber pengetahuan, kekal, sumber segala kebenaran karena veda sendiri adalah kebenaran. Veda mengajarkan tentang dharma, yang darinya segala sesuatu di dunia ini berlaku teratur, tidak berawal dan berakhir, tidak ada penciptaan dan peleburan, semua berlaku sesuai dengan karmanya sendiri. Oleh karena itu meyakini dan melaksanakan ajaran veda akan mengantarkan manusia menuju sorga. Walaupun demikian mimamsa akhirnya menyesuaikan diri dengan sistem filsafat Hindu lainnya, juga mengajarkan bahwa tujuan tertinggi dari pelaksanaan dharma adalah moksa. Moksa dapat dicapai dengan melakukan upacara-upacara keagamaan, kurban, Pokok ajaran mimamsa adalah yadnya, persembahan suci yang tulus ikhlas sesuai dengan ajaran-ajaran Weda. Hanya dengan melaksanakan ajaran Weda manusia dapat mencapai surga, bahkan kelepasan (moksa). Oleh sebab itu maka ajaran mimamsa dikatakan sebagai karma-kanda. Pokok pembicaraan mimamsa adalah peneguhan kewibawaan Weda dan pembuktian bahwa kitab Weda merupakan tuntunan dalam pelaksanaan upacara-upacara keagamaan.
Dikatakan oleh mimamsa bahwa dharma tidak akan mendatangkan pahalanya secara langsung. Dalam hubungan ini walaupun orang melakukan segala macam upacara keagamaan dengan benar dan berdasarkan kemurnian kesusilaan, ia tidak akan secara langsung memetik buah dari perbuatannya itu. Sebab semua tindakan yang mengenai upacara keagamaan hanya bersifat sementara, tidak kekal maka tindakan ini tidak mungkin mempunyai hubungan langsung dengan buahnya. Upacara keagamaan adalah suatu kelompok tindakan yang akan berakhir bila tindakan itu selesai dilaksanakan, tetapi pahala yang akan diperoleh dari suatu upacara tidak akan diperoleh setelah upacara itu dilakukan melainkan harus menunggu beberapa waktu lagi. Hal ini dipertegas lagi bahwa hasil tertinggi dari semua bentuk upacara, yaitu sorga hanya akan didapatkan setelah kematian. Persoalannya adalah bagaimana mungkin upacara yang selesai dilaksanakan pada waktu ini, di sini menghasilkan pahala pada waktu dan tempat yang kemudian ?
Untuk menjawab hal tersebut, mimamsa mengajarkan tentang apurwa. Apurwa berarti tenaga yang tidak tampak. Suatu upacara yang telah dilakukan oleh seseorang akan melahirkan suatu tenaga atau daya yang tidak tampak di dalam jiwa orang yang melakukan ritual tersebut. Apurwa ini akan terus bertahan hingga upah yang sesuai dengan perbuatan itu menjadi masak. Jadi, apurwa mewujudkan suatu jembatan yang menghubungkan waktu sebuah ritual dengan buahnya.

6. Waisesitwa
Filsafat wisestadvaita membicarakan Tuhan dan atribut-atributnya. Tuhan dikatakan sebagai advaita, artinya satu-satunya kenyataan yang tiada duanya, tetapi Tuhan yang satu itu diberi keterangan oleh sifat-sifatnya (visesta). Menurut visestadvaita Tuhan disebut Visnu atau Narayana yang sama dengan Brahman.
Berbeda dengan dvaita vedanta bahwa Tuhan sama sekali berbeda dengan jiwa dan benda, maka visestadvaita berkata bahwa Tuhan, Jiwa, dan Dunia memang berbeda tetapi tidak bisa dipisah-pisahkan. Tekanannya diletakkan pada kata berbeda tapi berhubungan erat sekali. Brahman menjelma dalam jiwa, dalam dunia serta menjiwai kedua-duanya. Tuhan adalah azas imanen berada di dalam jiwa (purusa) dan benda (prakerti). Akan tetapi jika Tuhan berada bagi dirinya sendiri maka jiwa dan benda berada bagi Tuhan. Tuhan, Jiwa dan Badan mewujudkan suatu kesatuan organis, baik secara silmultan maupun secara berurutan. Contoh, ketika kita berbicara “Bungan Mawar Merah” maka ucapan ini adalah suatu kesatuan, yaitu bunga (substansi) dilekati oleh dua kualitas yang berbeda, yaitu “mawar” dan “merah”. Bunga sesungguhnya ada dalam dirinya sendiri, sedangkan dua kualitas yang menyertainya bergantung pada bunga sebagai substansinya. Akan tetapi ketiganya saling bergantungan satu dengan yang lainnya karena ketiganya adalah kesatuan “ Bungan Mawar Merah”. Ketiganya hadir secara simultan dalam satu realitas. Contoh lain adalah ketika melihat seorang perjaka maka substansi nya adalah “itu orang”, sedangkan “jejaka” adalah kualitas yang melekatinya. Apabila jejaka itu kita lihat 18 tahun yang lalu pada saat dia masih bayi maka kualitas “bayi” juga pernah melekat pada “seorang itu”. Ini menunjukkan bahwa jiwa yang dahulu menjelama dalam bayi (18 tahun yang lalu), sekaran menjelma dalam jejaka (sekarang), padahal jiwa itu satu, namun hadir secara berurutan. Artinya, baik yang hadir secara simultan maupun secara berurutan ketiganya tidak dapat dipisah-pisahkan (arptak siddhi).
Memang brahman berbeda dengan jiwa dan dunia, tetapi memang benar juga bahwa brahman sama dengan jiwa dan dunia. Sepertinya, logika yang digunakan dalam advaita vedanta bersifat paradoks karena tidak mungkin sesuatu yang sama dalam hal yang sama juga dikatakan berbeda. Persoalan ini hanya mungkin terjawab dengan menyadari bahwa brahman, jiwa, dan dunia kekal adanya, namun jiwa dan dunia bergantung kepada brahman dan brahman menjelma sebagai jiwa bagi keduanya. Oleh karena brahman adalah asas imanen, asas yang berperibadi maka brahman menjadi tujuan pemujaan (bhakti) dalam semua aspirasi keagamaan. Akan tetapi karena brahman, juga berada dalam badan dan jiwa, brahman juga menjadi objek permenungan mendalam, yaitu dengan mengetahui sang diri sejati. Brahman merupakan inti dari jiwa dan tubuh yang merupakan substansi dari tubuh dan jiwa itu sendiri, sebagai sang diri sejati. Oleh sebab itu melakukan pemujaan (bhakti) sama pentingnya dengan permenungan (samadhi) karena keduanya akan mengarahkan manusia menuju kelepasan, moksa